Kalau mendengar premis Porco Rosso untuk pertama kalinya, reaksi kebanyakan orang mungkin akan sama: "Jadi... ini film tentang babi yang menerbangkan pesawat?"
Dan jujur aja, itu juga reaksiku waktu pertama kali tahu tentang Porco Rosso.
Kedengarannya aneh.
Bahkan agak konyol.
Tapi seperti banyak film karya Hayao Miyazaki lainnya, di balik premis yang unik ternyata ada cerita yang jauh lebih dalam daripada yang kita bayangkan.
Film ini mengikuti kisah Porco Rosso, seorang pilot legendaris yang hidup di sekitar Laut Adriatik setelah Perang Dunia I. Namun ada satu hal yang membuatnya berbeda dari manusia lainnya: dia memiliki wajah seekor babi.
Menariknya, film ini tidak pernah terlalu fokus menjelaskan kenapa hal itu bisa terjadi. Yang lebih penting justru bagaimana Porco menjalani hidupnya setelah perubahan tersebut.
Dia bekerja sebagai pemburu bajak laut udara, hidup sendirian, dan lebih memilih menjauh dari banyak orang.
Kalau dipikir-pikir, Porco bukan karakter utama yang biasanya kita temukan dalam film animasi.
Dia bukan remaja yang sedang mencari jati diri.
Dia bukan pahlawan yang ingin menyelamatkan dunia.
Dia bahkan bukan orang yang terlalu optimis.
Porco adalah pria yang lelah.
Lelah dengan perang.
Lelah dengan politik.
Lelah dengan manusia.
Dan menurutku, justru itu yang membuat karakternya sangat menarik.
Sepanjang film, kita bisa melihat bahwa di balik sikap sinis dan komentar-komentarnya yang sarkastik, sebenarnya Porco adalah orang yang peduli. Dia hanya tidak pandai menunjukkannya.
Dia tetap membantu orang lain.
Dia tetap melindungi yang lemah.
Dia tetap melakukan hal yang benar meskipun sering mengeluh sepanjang jalan.
Jujur aja, semakin lama aku menonton film ini, semakin aku menyukai karakternya.
Karena dia terasa sangat manusiawi.
Salah satu hal yang paling aku suka dari Porco Rosso adalah suasananya.
Film ini punya vibe yang berbeda dibanding banyak film Studio Ghibli lainnya.
Tidak ada dunia sihir besar.
Tidak ada roh hutan.
Tidak ada kota terbang.
Yang ada justru langit biru yang luas, laut yang tenang, pesawat-pesawat tua yang indah, dan suasana Eropa tahun 1920-an yang terasa hangat sekaligus melankolis.
Ada banyak adegan di mana Porco hanya terbang melintasi lautan.
Tidak ada aksi besar.
Tidak ada dialog penting.
Tapi entah kenapa tetap terasa menyenangkan untuk ditonton.
Rasanya seperti ikut duduk di kokpit sambil menikmati angin dan suara mesin pesawat.
Sebagai seseorang yang suka tema penerbangan, aku merasa film ini benar-benar memanjakan mata.
Desain pesawatnya keren.
Adegan terbangnya terasa bebas.
Dan hampir setiap kali karakter berada di udara, ada rasa kagum yang sulit dijelaskan.
Mungkin karena Miyazaki memang terkenal sangat mencintai dunia penerbangan.
Dan kecintaan itu benar-benar terasa di setiap adegan.
Selain Porco, ada juga karakter bernama Fio yang menjadi salah satu bagian terbaik dari film ini.
Fio adalah insinyur muda yang membantu memperbaiki pesawat Porco.
Awalnya mungkin kita mengira dia hanya karakter pendukung biasa. Tapi semakin lama, semakin terlihat bahwa dia adalah salah satu karakter paling cerdas dan berani dalam cerita.
Aku suka bagaimana Fio tidak pernah membiarkan dirinya diremehkan hanya karena usianya masih muda.
Dia percaya diri dengan kemampuannya dan berani menyuarakan pendapatnya.
Interaksinya dengan Porco juga menyenangkan karena mereka sering saling bertolak belakang.
Porco cenderung sinis.
Fio cenderung optimis.
Dan kombinasi itu membuat banyak momen dalam film terasa hidup.
Lalu tentu saja ada Donald Curtis, rival Porco yang karismatik sekaligus kocak.
Kalau Porco adalah tipe orang yang ingin hidup tenang, Curtis adalah kebalikannya. Dia suka perhatian, suka pamer, dan selalu yakin bahwa dirinya adalah orang paling hebat di ruangan.
Kehadirannya membuat film ini punya banyak momen lucu yang membantu menyeimbangkan nuansa melankolis yang dimiliki cerita.
Yang membuat Porco Rosso berbeda dari banyak film petualangan lainnya adalah fokusnya yang lebih dewasa.
Film ini membahas kehilangan.
Penyesalan.
Kesepian.
Dan bagaimana seseorang mencoba menemukan makna hidup setelah melewati masa-masa sulit.
Tapi tenang, semua itu tidak disampaikan dengan cara yang berat atau menggurui.
Justru sebagian besar pesan film ini muncul secara perlahan melalui percakapan sederhana dan momen-momen kecil.
Salah satu kutipan paling terkenal dari film ini adalah ketika Porco mengatakan bahwa lebih baik menjadi babi daripada menjadi fasis.
Kalimat itu terdengar lucu pada awalnya.
Tapi semakin dipikirkan, semakin terasa bahwa film ini memang punya banyak hal yang ingin disampaikan tentang kebebasan, identitas, dan pilihan hidup.
Selain cerita dan karakternya, soundtrack karya Joe Hisaishi juga luar biasa.
Musiknya terasa hangat, romantis, dan penuh nostalgia.
Bahkan ketika tidak banyak yang terjadi di layar, musiknya berhasil membuat setiap adegan terasa hidup.
Menurutku, alasan kenapa Porco Rosso begitu dicintai banyak penggemar Studio Ghibli adalah karena film ini terasa unik.
Ini bukan film yang mencoba membuat kita menangis.
Bukan juga film yang penuh aksi tanpa henti.
Sebaliknya, film ini mengajak kita duduk santai, menikmati perjalanan, dan menghabiskan waktu bersama karakter-karakter yang menarik.
Setelah selesai menonton, aku merasa seperti baru saja menghabiskan sore yang panjang di tepi laut sambil mendengarkan cerita seorang pilot tua yang pernah mengalami banyak hal dalam hidupnya.
Dan jujur aja, itu perasaan yang sangat menyenangkan.
Kalau kalian suka film dengan suasana tenang, karakter yang berkesan, visual yang indah, dan cerita yang perlahan tumbuh di hati penontonnya, Porco Rosso wajib banget dicoba.
Karena pada akhirnya, film ini bukan cuma tentang seekor babi yang bisa menerbangkan pesawat.
Ini adalah cerita tentang kebebasan, kehilangan, dan menemukan alasan untuk terus terbang meskipun dunia tidak selalu berjalan sesuai harapan. ✈️๐ท☁️❤️✨
Dan ya... entah bagaimana Studio Ghibli berhasil membuatku peduli pada kehidupan seekor pilot babi selama hampir dua jam penuh. ๐ญ✋๐ป๐
Penulis : Jenny
๐
ReplyDelete