The Big 4 (2022): Ketika Pembunuh Bayaran Pensiunan Justru Menjadi Keluarga Paling Absurd yang Pernah Ada

 

Indonesia sudah cukup sering menghadirkan film aksi yang berkualitas dalam beberapa tahun terakhir. Namun ketika mendengar nama Timo Tjahjanto sebagai sutradara, ekspektasi penonton biasanya langsung mengarah pada pertarungan brutal, darah di mana-mana, dan aksi yang intens. Karena itulah, saat The Big 4 diumumkan sebagai film aksi komedi, banyak orang penasaran sekaligus bertanya-tanya: seperti apa jadinya jika Timo mencoba sesuatu yang lebih ringan?

Jawabannya ternyata cukup mengejutkan.

The Big 4 bukan hanya film aksi yang dipenuhi tembakan dan pertarungan seru. Film ini juga merupakan salah satu film Indonesia yang paling berani menggabungkan humor absurd dengan aksi skala besar. Hasilnya adalah tontonan yang terasa unik, kacau dalam arti yang menyenangkan, dan memiliki identitas yang sangat kuat. Film ini mengikuti kisah empat mantan pembunuh bayaran yang harus kembali beraksi ketika seorang polisi bernama Dina datang mencari jawaban tentang kematian ayahnya. Di balik premis tersebut, tersimpan cerita tentang keluarga, kehilangan, persahabatan, dan orang-orang yang berusaha mencari tempat mereka di dunia.

Yang membuat film ini menarik adalah bagaimana ia tidak pernah mencoba menjadi film aksi yang terlalu serius. Bahkan ketika karakter-karakternya sedang menghadapi situasi hidup dan mati, selalu ada ruang untuk humor yang membuat suasana terasa lebih santai.

Namun jangan salah. Di balik semua candaan itu, The Big 4 tetap menyajikan aksi yang mampu membuat penonton terpaku di depan layar.

Sebuah Misteri yang Membawa Dina ke Dunia yang Tidak Pernah Ia Bayangkan

Cerita dimulai ketika Dina, seorang polisi yang idealis, berusaha mengungkap kematian ayahnya. Pencariannya membawanya ke sebuah pulau terpencil yang tampak tenang dari luar, tetapi ternyata menyimpan banyak rahasia. Di sanalah ia bertemu dengan Topan dan orang-orang yang kehidupannya jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan. (KapanLagi.com)

Dina menjadi pintu masuk penonton ke dunia film ini.

Karena ia sama bingungnya dengan kita.

Ia datang dengan harapan menemukan jawaban sederhana mengenai kematian ayahnya. Namun semakin jauh ia menyelidiki, semakin banyak rahasia yang terungkap. Ternyata orang-orang yang ia temui bukanlah warga biasa. Mereka adalah mantan pembunuh bayaran yang pernah menjadi bagian dari kelompok legendaris bernama The Big 4. (Wikipedia)

Konsep ini sebenarnya cukup sederhana. Namun yang membuatnya berhasil adalah bagaimana film memperkenalkan karakter-karakternya secara bertahap sambil tetap menjaga ritme cerita tetap menghibur.

Karakter yang Menjadi Kekuatan Terbesar Film

Jika aksi adalah alasan awal seseorang menonton The Big 4, maka karakter-karakternya adalah alasan mengapa film ini mudah diingat setelah selesai.

Topan yang diperankan Abimana Aryasatya berfungsi sebagai sosok yang paling tenang di antara kelompoknya. Ia terlihat seperti seseorang yang sudah lelah dengan kehidupan lamanya dan hanya ingin hidup damai.

Lalu ada Alpha yang diperankan Lutesha, karakter yang mungkin menjadi salah satu favorit banyak penonton. Alpha tampil dingin, mematikan, tetapi di saat yang sama memiliki sisi unik yang membuatnya berbeda dari karakter pembunuh bayaran pada umumnya.

Kemudian ada Jenggo yang diperankan Arie Kriting. Karakter ini menjadi sumber sebagian besar humor dalam film. Tingkah lakunya yang santai dan ceplas-ceplos sering kali menciptakan situasi yang sangat lucu.

Dan tentu saja Pelor yang diperankan Kristo Immanuel, karakter yang mungkin paling absurd tetapi justru membuat kelompok ini terasa lengkap.

Masing-masing anggota memiliki kepribadian yang sangat berbeda. Namun ketika mereka berada dalam satu adegan bersama, semuanya terasa cocok.

Inilah yang membuat The Big 4 terasa seperti sebuah keluarga, meskipun keluarga tersebut kebetulan terdiri dari mantan pembunuh bayaran.

Komedi yang Terasa Sangat Indonesia

Salah satu aspek paling menarik dari film ini adalah humornya.

Banyak film aksi komedi mencoba menggunakan formula Hollywood yang sudah umum. Namun The Big 4 terasa berbeda karena humornya sangat dekat dengan budaya Indonesia.

Dialog-dialognya sering terasa seperti percakapan yang benar-benar bisa kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Candaan yang muncul juga tidak selalu berasal dari situasi besar. Kadang hanya dari ekspresi karakter atau cara mereka menanggapi sebuah masalah.

Beberapa penonton internasional bahkan mengakui bahwa sebagian humor mungkin lebih mudah dipahami oleh penonton Indonesia dibandingkan penonton luar negeri. Namun justru di situlah daya tariknya. Film ini tidak mencoba menjadi sesuatu yang bukan dirinya. (Reddit)

Humor yang digunakan terasa natural dan membantu membedakan The Big 4 dari banyak film aksi lain yang lebih serius.

Aksi Khas Timo Tjahjanto yang Tetap Brutal

Meskipun film ini lebih ringan dibandingkan karya-karya Timo sebelumnya, bukan berarti aksi yang ditampilkan menjadi biasa saja.

Justru sebaliknya.

Timo tetap membawa gaya penyutradaraan yang membuat namanya dikenal oleh penggemar film aksi internasional. Pertarungan dalam film ini terasa cepat, kreatif, dan penuh energi. Kamera bergerak aktif mengikuti setiap pukulan, tendangan, dan tembakan sehingga penonton benar-benar merasakan intensitas adegan tersebut. Banyak kritikus memuji bagaimana Timo mampu menghadirkan aksi yang terasa brutal tetapi tetap menyenangkan untuk ditonton. (Roger Ebert)

Yang menarik, film ini tidak hanya mengandalkan satu jenis aksi.

Ada baku tembak.

Ada pertarungan jarak dekat.

Ada kejar-kejaran.

Ada ledakan.

Dan semuanya dikemas dengan ritme yang cukup baik sehingga penonton tidak mudah merasa bosan.

Timo tampaknya memahami bahwa aksi yang baik bukan hanya soal jumlah orang yang dipukul atau ditembak. Yang lebih penting adalah bagaimana membuat setiap adegan terasa berbeda dari sebelumnya.

Pulau Bersi yang Menjadi Karakter Tersendiri

Banyak film menggunakan lokasi hanya sebagai latar belakang. Namun The Big 4 berhasil membuat Pulau Bersi terasa seperti bagian penting dari cerita.

Pulau fiktif ini terinspirasi dari berbagai lokasi di Indonesia Timur dan dipilih karena Timo ingin menampilkan sisi Indonesia yang jarang terlihat dalam film aksi lokal. (Wikipedia)

Pemandangan alamnya memberikan kontras yang menarik dengan kekacauan yang terjadi sepanjang cerita.

Di satu sisi kita melihat pantai dan suasana tropis yang indah.

Di sisi lain, kita menyaksikan para pembunuh bayaran saling menghajar satu sama lain.

Perpaduan tersebut menciptakan visual yang unik dan membuat film terasa berbeda dibandingkan banyak film aksi lainnya.

Tema Keluarga yang Tersembunyi di Balik Kekacauan

Meskipun dipenuhi humor dan aksi, inti cerita The Big 4 sebenarnya cukup sederhana.

Film ini berbicara tentang keluarga.

Bukan keluarga yang terbentuk karena hubungan darah, tetapi keluarga yang terbentuk karena pengalaman hidup bersama.

Dina kehilangan ayahnya dan berusaha mencari jawaban.

Sementara anggota The Big 4 juga berusaha menghadapi kehilangan dengan cara mereka masing-masing.

Semakin jauh cerita berjalan, semakin jelas bahwa hubungan di antara karakter-karakter ini lebih dalam daripada yang terlihat pada awal film.

Mereka mungkin saling mengejek.

Mereka mungkin sering berbeda pendapat.

Tetapi ketika salah satu dari mereka berada dalam bahaya, yang lain akan selalu datang membantu.

Tema inilah yang membuat film memiliki sisi emosional tanpa harus menjadi terlalu dramatis.

Kenapa Film Ini Mendapat Banyak Perhatian?

Setelah dirilis di Netflix pada Desember 2022, The Big 4 berhasil masuk daftar tontonan populer di banyak negara dan menjadi salah satu film non-Inggris yang paling banyak ditonton pada saat itu. (Wikipedia)

Kesuksesan tersebut cukup menarik karena film ini sangat Indonesia dalam banyak aspeknya.

Biasanya film yang ingin sukses secara global berusaha menyesuaikan diri dengan selera internasional. Namun The Big 4 justru melakukan hal sebaliknya. Film ini tetap mempertahankan identitas lokalnya sambil menghadirkan aksi yang bisa dinikmati oleh penonton dari berbagai negara.

Hasilnya ternyata berhasil.

Banyak penonton internasional memuji aksi, karakter, dan humor yang ditampilkan. Bahkan beberapa penggemar film aksi menyebutnya sebagai salah satu film Netflix yang paling menghibur pada tahun perilisannya. (Reddit)

Sebuah Film yang Tahu Cara Bersenang-Senang

Ada banyak film aksi yang berusaha terlihat keren.

Ada banyak film komedi yang berusaha membuat penonton tertawa.

Namun tidak semuanya berhasil melakukan kedua hal tersebut secara bersamaan.

The Big 4 adalah salah satu film yang memahami bahwa hiburan tidak harus selalu rumit.

Film ini tahu kapan harus serius.

Film ini tahu kapan harus lucu.

Dan yang paling penting, film ini tahu kapan harus membiarkan penontonnya bersenang-senang.

Mungkin cerita yang disajikan tidak sepenuhnya sempurna. Mungkin ada beberapa bagian yang terasa terlalu panjang. Namun energi yang dimiliki film ini membuat kekurangan-kekurangan tersebut terasa lebih mudah untuk dimaafkan.

Pada akhirnya, The Big 4 adalah bukti bahwa Indonesia mampu menghasilkan film aksi komedi yang tidak kalah menarik dibandingkan banyak produksi internasional. Dengan karakter yang menyenangkan, aksi yang seru, humor yang khas, dan sentuhan emosional yang cukup kuat, film ini berhasil menjadi salah satu tontonan lokal yang paling berkesan dalam beberapa tahun terakhir.

Dan mungkin itulah alasan mengapa banyak orang berharap kisah mereka suatu hari akan berlanjut lagi.

Kalau kamu berada di posisi Dina dan tiba-tiba mengetahui bahwa orang yang selama ini kamu kenal ternyata menyimpan kehidupan rahasia yang sangat berbeda dari yang kamu bayangkan, apakah kamu akan tetap berusaha mencari seluruh kebenarannya sampai akhir? Atau justru kamu lebih memilih menerima kenyataan yang ada dan melanjutkan hidup tanpa membuka rahasia-rahasia lama yang mungkin justru akan mengubah semua yang kamu ketahui tentang orang tersebut?


Penulis : Cecillia Fernanda


Comments